Kisah Sepiring Nasi Goreng

Art Work Budaya Gaya Hidup Opini

ilustrasi: Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort atau Tante Lien penulis lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng/ Chairul Amri Simabur https://www.instagram.com/chairulamri/

Ternyata soal nasi goreng tidak sederhana belakangan ini!


Konon ceritanya nasi goreng dahulu kala dibuat oleh orang Tiongkok untuk mengolah sisa nasi yang tidak habis dimakan. Hal ini dilakukan untuk menghemat bahan makanan.

Nasi goreng sampai di Nusantara oleh para imigran Tiongkok, hingga nasi goreng jadi menu sehari-hari pribumi.

Bahkan ternyata, nasi goreng bukan hanya santapan para inlander. Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort atau Tante Lien, seorang keturunan Belanda yang lahir dan besar di Surabaya juga menyukai nasi goreng.

Konflik Irian (Papua) pada 1957 membuat hubungan antara Indonesia dengan Belanda memanas.

Pemerintah Indonesia mengeluarkan sentimen anti orang Barat sehingga Wieteke yang saat itu berusia 14 tahun bersama dengan keluarganya mengungsi ke Belanda.

Wieteke tidak menyukai iklim Belanda yang dingin serta makanan khas di sana. Dari sanalah, Wieteke akhirnya menulis lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng untuk mengekspresikan kerinduannya kepada Indonesia.

Geef mij maar nasi goreng artinya Beri saja aku nasi goreng.

Cerita nasi goreng ternyata tidak berakhir di sana. Majalah Tempo edisi 2 Agustus 2019 memuat gambar pertemuan antara Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Pertemuan tersebut mengambarkan kisah “romantis” keduanya dengan hidangan nasi goreng. Jumpa ini terjadi di rumah Megawati, Jalan Tengku Umar, Menteng, Jakarta pada 24 Juli 2019.

Pertemuan dua elit partai di Indonesia pasca Pemilu Presiden 2019 sontak membuat beragam spekulasi. Tapi, makan siang dua kawan lama ini memberikan angin segar untuk tensi politik di Indonesia.

Karena Prabowo dan jago PDI Perjuangan, Joko Widodo pertarungannya lumayan sengit ketika Pemilu.

Setali tiga uang dengan jamuan di Menteng, Ketua Partai Nasdem Surya Paloh yang merupakan koalisi Joko Widodo malah mengadakan tatap muka dengan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Pertemuan yang tidak biasa ini terjadi di kantor DPP Partai Nasdem di Gondangdia, Jakarta, Rabu, 24 Juli 2019. Pertemuan berlangsung selama 30 menit yang diawali makan siang dengan menu utama nasi kebuli. Bukan nasi goreng.

Dalam karikatur Tempo soal nasi goreng yang memuat pertemuan Mega dan Prabowo, tertulis sepenggal lirik lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng.

Lucunya, pada bagian bawah gambar ini, tampak Surya Paloh memeluk Anis Baswedan dan berkomentar soal lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng. “Ah. Itu lagu lama. Kita makan di luar yuk,” ajakan Surya pada Anies.

Ternyata soal nasi goreng tidak sederhana belakangan ini. Mungkin publik dan para elit partai lainnya sedang menunggu, apakah nasi goreng atau nasi kebuli yang akan muncul jelang Pemilu 2024.

Paling terbaru terjadi pada Minggu, 11 Agustus 2019. Soal nasi goreng lagi.

Kali ini berasal dari dapur saya. Entah kenapa, disaat belum makan siang, Istri tercinta menawari nasi goreng.

Spekulasi pun bermunculan di otak saya. Oh, kali ini sederhana. Perut yang lapar ternyata bisa dikenyangkan oleh nasi goreng.

Dalam hati saya berucap, Geef Mij Maar Nasi Goreng.

Tulisan ini pernah dimuat: https://balebengong.id/di-balik-kisah-nasi-goreng/ dan http://www.tatkala.co/2019/08/13/nasi-goreng-dari-nasi-sisa-politik-hingga-dapur-istri-tercinta/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *