KolomOpini

Awas! Bali The Lost Paradise atau The Last Paradise?

Badung –  Terkait bule yang banyak berulah belakangan ini, jelas menunjukkan ada yang eror dalam tata kelola pariwisata kita, terutama menyangkut behavior wisman secara umum.

Dalam hal pariwisata berkualitas dan berkelanjutan serta standar penyelenggaraan kepariwisataan budaya Bali ada fenomena nyeleneh atas maraknya prilaku bule yg makin ke sini makin menjadi jadi, liar dan chauvinis, ada apa sesungguhnya?

Jika kita memotret perkembangan pariwisata saat ini maka selain kita patut bersyukur dengan pertumbuhanya yang menjadi generator pertumbuhan ekonomi, di sisi lain kita lupa akan dampaknya yang begitu dahsyat menyentak dan memalukan.

Setidaknya ada lima persoalan mendasar yg saya jumpai sebagai pelaku pariwisata yg mereduksi tatanan destinasi kita yakni :

(1.) Lingkungan mengalami tekanan yang luarbiasa hingga tata ruang menjadi kacau balau, sampah bertebaran, hingga terkikisnya secara masif pesona bentang alam, (2). Infrastrukur yg belum mengarah world class infrastructure: trotoar tidak layak, canstein suram, jalan jalan sempit, hingga macet parah di kawasan yang bertumbuh, over head capital semrawut, tiang beranak, kabel kabel bercucu bak jaring laba-laba raksasa, (3) Keamanan kita tampak tak settle, tiap hari ada copet, jambret, penipuan, hingga kriminalitas macam rupa dilakukan oleh pelaku kejahatan dan juga oleh bule, kita rindu hadirnya Tourism Police,( 4.) Behavior : prilaku masyarakat dan juga prilaku wisman tampaknya setali tiga uang, banyak bule yang juga meniru prilaku warga, hingga berprilaku bringas, kasar, ngamuk, berkelahi dan terakhir membawa truk ugal ugalan hingga masuk ke Bandara, tentu Bandara sebagai objek vital ternyata sangat mudah ditembus oleh pelaku kejahatan, bayangkan jika truk itu isinya bahan peledak!, betapa lemah sistem keamanan dan cegah dini keamanan di objek vital Bandara. (5) Good Will pemerintah terhadap pariwisata belum terlihat significan kecuali pemerintah sangat agresif  menarik PHR dan Tourism Levy yang arah penggunaanya belum terasa menjadi equalizing power dalam memajukan dan menjadikan pariwisata berkualitas serta  berkelanjutan.

Baca Juga:  Bandara Ngurah Rai Layani 2 Juta Penumpang Pada Agustus, Pariwisata Berangsur Pulih

Dari potret ini kita melihat betapa semrawutnnya pengelolaan kepariwisataan kita, hingga memunculkan prilaku bule yang justru mereduksi kualitas destinasi kita.

Oleh karena itu saya berpandangan bahwa Bule yang berkelakuan buruk ini sebaiknya ditahan dan dideportasi dengan cepat.

Selanjutnya perkuat announcement tentang do and don’t bagi wisman, melalui front liner seperti para guide, front desk accomodasi, driver, hingga pengelola objek dan destinasi.

Baca Juga:  Semester I 2024, Bandara Ngurah Rai Telah Layani 11 Juta Lebih Penumpang

Jadi perlu ada program penguatan behavior masyarakat penyangga destinasi untuk bisa berpartisipasi aktif dalam turut mengawasi prilaku wisatawan. Selanjutnya TOURISM POLICE segera ditugaskan di titik titik destinasi  untuk memantau wisman dan situasi keamanan destinasi berkolaborasi dengan Bankamda, Linmas dan PAM Swakarsa serta lainya.

Jadi terkait prilaku nyeleneh Bule ini, langkah mendesak adalah penjarakan mereka lalu segera di deportasi. (*)

 

Penulis: I Wayan Puspa Negara, praktisi pariwisata Badung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button