Nyepi dan Puasa Medsos

Art Work Budaya Opini

Foto/ilustrasi: https://www.instagram.com/mildoz_/

Saat ini mungkin hampir mustahil bebas sama sekali dari yang namanya media sosial.

Cover Bali – Pada pelaksanaan Nyepi tahun ini bagi saya tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Terutama tidak bekerja atau libur. Sisanya, masih menyesuaikan diri. Lainnya hanya menikmati waktu yang terasa berjalan lebih lambat. Tidak ada suara kendaraan dan aktifitas dibatasi. Sudah sepi.

Cuman, menjelang Nyepi saya rasakan cukup ramai. Terutama di media sosial atau medsos. Mulai dari Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat hingga soal sulinggih. Sulinggih menjadi pembicaraan yang cukup hangat di media sosial.

Belakangan memang cukup trend sulinggih di media sosial. Ada yang muda, sedap dipandang atau ada yang sering wara-wiri ke luar negeri. Ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi.

Dulu, seorang sulinggih dikenal karena kemampuan atau karismanya sehingga disegani banyak orang. Misalkan almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung. Saya kenal beliau saat menonton tayangan dharma wacana di televisi.

Contoh lainnya, Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa yang juga telah almarhum. Saya mencari tahu tentang beliau karena mendengar salah satu wasiatnya setelah wafat, agar prosesi pemakamannya dilakukan dengan sederhana.

Saya tidak tahu kehidupan pribadi kedua tokoh ini. Apa mungkin karena almarhum tidak menggunakan media sosial atau tidak bisa menggunakan media sosial, mungkin citra diri di media tidak penting lagi? Ah, saya tidak berusaha menjawab itu.

Tapi, belakangan sulinggih berkasus malah bermunculan di media sosial. Saya tidak terlalu mengikuti. Hanya sepintas saja. Malah obrolan soal sulinggih ini sampai ke dunia nyata.

Ya, sifat dari media sosial memang begitu, riuh. Saya mencoba untuk mengikuti persoalannya dari satu akun ke akun lainnya di Facebook. Cuman saya tidak kuat. Pusing.

Entah kenapa. Pastinya segala hiruk-pikuk tersebut tidak membuat saya tertarik. Yang menjadi perhatian saya cuman satu. Sulinggih yang seharusnya menjadi panutan bagi umatnya kini terbelit persoalan.

Terlepas dari sulinggih adalah seorang manusia, tapi bagi saya itulah tantangan terberat bagi sulinggih. Ia harus lebih dari umatnya.

Saya tidak paham kenapa banyak pengikut dan penggemar sulinggih di media sosial. Jika perkara fisik, itu relatif. Apa karena unggahannya atau lainnya?

Yasraf (2004:15) dalam buku Dunia Yang Berlari Mencari  Tuhan-Tuhan Digital menyebutkan, mengembara di dunia cyber dengan membangun tempat suci virtual, menciptakan dewa-dewa artifisial, mendatangkan nabi-nabi cyber atau mensimulasi Tuhan adalah kesia-siaan.

Karena sesungguhnya dunia cyber adalah bazzar global. Tempat untuk belanja, mendapatkan informasi, bersenang-senang dan untuk melepaskan diri dari kepenatan dunia fisik. Tidak ada hubungannya dengan spiritual.

Kesadaran di Media Sosial

Ada imbauan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia di salah satu kabupaten di Bali yang berharap sulinggih menjauhi telepon genggam. Katanya gadget adalah sumber kesenangan. Apalagi saat Hari Raya Nyepi Umat Hindu harus amati lelanguan atau menghindari kesenangan.

Ada empat hal yang harus dihindari saat Nyepi, amati geni atau tidak menyalakan api, amati karya atau tidak bekerja, amati lelungan atau tidak bepergian dan amati lelanguan.

Hal ini sejalan dengan langkah dari pemerintah Provinsi Bali yang membatasi penggunaan gadget dengan diputusnya sinyal internet. Tapi, tahun ini masih bisa dengan wifi.

Puasa media sosial ini menarik. Saya senang melakukan itu. Mungkin karena saya tipikal orang yang santai dan menikmati segala hal. Mulai dari makan, mandi hingga berkendara. Sehingga saya dicap sebagai orang yang lambat.

Lambat merupakan lawan dari media sosial yang bersifat cepat.

Di Amerika dan Eropa bahkan beberapa di Indonesia sudah ada yang mulai gerakan puasa media sosial. Ada beberapa alasan, ingin waktu lebih untuk diri sendiri, pekerjaan dan orang di sekitar. Ingin menghindari perdebatan bahkan ada alasan ingin tidur lebih lama.

Saya yang puasa medsos saat Nyepi baik-baik saja kok!

Ada yang menyebutkan media sosial menjadi semacam candu. Benar yang dikatakan oleh Parisada tadi, gadget adalah sumber kesenangan termasuk media sosial.

Dalam media sosial seseorang bisa berubah drastis 360 derajat. Kesehariannya adalah sosok biasa, di media sosial bisa menjadi kritis dan bernas dalam menanggapi isu.

Hingga menjadi pejuang keadilan sosial atau social justice warrior (SJW). Namun, saat menjadi SJW ini apakah anda, kita dan mereka sudah berusaha menyajikan data dan fakta? Atau kita hanya akan menambah keriuhan untuk mendapatkan panggung yang alfa di dunia nyata?

Saat ini mungkin hampir mustahil bebas sama sekali dari yang namanya media sosial.

Saat saya lihat media sosial bukan hanya arena untuk bersenang-senang. Justru lebih dari itu. Di sana ada pengakuan, jati diri, agama, seks, politik, bisnis hingga perkara membantu sesama manusia. Semuanya menyatu tanpa ada sekat.

Bahkan kita saat ini mungkin merasa hidup di dua dunia, nyata dan artifisial.

Makanya menjadi penting adanya pertemuan secara nyata. Untuk membentuk kesan. Pola ini mustahil diwujudkan di dunia cyber. Makanya, sebelum kita percaya pada seseorang, atau kita menjadikannya tokoh, panutan hingga acuan religius, harus kita kenal secara nyata.

Sehingga saya rasa, puasa atau amati media sosial penting. Tidak hanya untuk umatnya, sulinggihnya juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *