Budaya

Tantangan Toleransi Pemuda Lintas Agama di Dunia Nyata dan Maya

Singaraja – Pemuda lintas agama diharapkan bisa menjadi penggerak kehidupan toleransi di dunia nyata dan maya. Sebagai agen perubahan, pemuda didorong berperan aktif, kolaboratif dan melaku aksi nyata untuk kegiatan toleran di mana pun berada.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan webinar yang mengusung tema “Moderation Talk:  Hidup Toleran di Dunia Maya dan Dunia Nyata” pada Sabtu (11/5). Acara tersebut digagas oleh Acarya Media Nusantara bekerjasama dengan  Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja dan didukung oleh Indika Foundation.

Dialog publik menghadirkan beberapa narasumber.Mulai dari Jaswanto (Jurnalis) , I Putu Arya Aditia Utama (Tim Staf Khusus Kemenpora RI), dan Putu Shinta Aiswarya ( Aliansi Pemuda Hindu Bali Kab. Buleleng)

I Komang Agus Widiantara, selaku program manager menyampaikan harapannya dari webinar ini. Menurutnya, agenda webinar ini dapat memberikan ruang dan dialog maupun pengetahun baru yang relevan terkait narasi toleran dan memantik rasa kebhinekaan. Tantangan moderasi, katanya tidak sebatas pada ruang nyata di masyarakat. Tapi juga diruang digital yang penuh dinamika.

Baca Juga:  STAHN Mpu Kuturan Singaraja Peduli Iklim Demokrasi Dalam Dunia Digital

“Tantangan menjaga dan merawat toleransi tak cukup mengandalkan pemerintah dan tokoh, tapi juga inisiatif anak muda,” ujarnya.

Acara ini berlangsung dengan interaktif dan menarik. Para peserta yang mengikuti kegiatan terdiri dari unsur pemuda lintas agama, mahasiswa dan pelajar di Kabupaten Buleleng.

Dalam paparannya, Tim Staf Khusus Kemenpora RI I Putu Arya Aditya Utama, menekankan pentingnya peran individu dan komunitas dalam menjaga toleransi. Sebagai individu perantau, ia mengakui siapapun berpotensi menjadi minoritas. Kondisi itu menjadi tantangan baginya semenjak studi di Pulau Jawa dan meninggalkan keluarga. “Dengan merantau kita banyak belajar arti sesungguhnya toleransi itu seperti apa,” ujarnya.

Sementara Jaswanto memaparkan tentang berbagai bukti toleransi yang tertanam dalam budaya dan tradisi masyarakat Buleleng.

“Toleransi di Buleleng bukan hanya sebatas toleransi antar umat beragama, tetapi juga toleransi antar budaya dan antar etnis. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya festival dan event budaya yang diadakan di Buleleng, di mana masyarakat dari berbagai budaya dan etnis dapat saling berbaur dan bersosialisasi,” tuturnya.”

Baca Juga:  Merayakan Seni Pasca Pandemi di Ubud Folkfest

Sementara itu, Putu Shinta Aiswarya, menekankan pentingnya peran pemuda dalam melawan intoleransi dan radikalisme di era digital.

“Pemuda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan di dunia maya, pemuda harus aktif dalam menyebarkan narasi damai dan moderat serta melawan ujaran kebencian dengan bijak menggunakan platform digital,” terangnya.

Salah satu peserta, Ayusri merupakan mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi yang memberikan kesan dan harapannya pada webinar moderation talk.

“Webinar ini merupakan langkah awal yang baik untuk membangun masyarakat yang harmonis dan damai. Namun, hal utama yaitu pentingnya untuk menggabungkan webinar ini dengan tindakan nyata dan berbagi pengetahuan dengan masyarakat,” ucap ayu. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button