Budaya

Bangun Dialog Lintas Agama, AMN Gelar Workshop Rumah Moderasi Mahasiswa

Singaraja – Minimnya dialog mahasiswa lintas agama di Kota Singaraja, Bali berpotensi memunculkan sikap intoleransi dikemudian hari. Terlebih memasuki tahun politik 2023, identitas agama kerapkali menjadi narasi di media sosial dengan membabi buta yang bertujuan memecah belah.

Untuk menyikapi fenomena itu dibutuhkan ruang dialogis yang saling membangun kesadaran untuk memperkuat kebhinekaan. Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Rumah Moderasi Mahasiswa (RMM) yang digelar oleh Acarya Media Nusantara (AMN) di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Minggu (28/5).

Ketua Acarya Media Nusantar I Komang Agus Widiantara menjelaskan kegiatan yang digagas merupakan respon dari kondisi atas rendahnya dialog antar mahasiswa lintas agama di Kota Singaraja. Pasalnya sebagai Kota Pendidikan tertua di Pulau Bali, Singaraja merefleksikan kehidupan multi kultur dan multi etnis yang cukup kompleks. Interaksi para pemuda dan mahasiswa dari berbagai penjuru di Indonesia berpotensi memunculkan gesekan kultural dan pengalaman keagamaan yang bervariatif.

“Merawat toleransi bukan hanya menjadi tanggungjawab orang tua, tokoh maupun pemerintah. Tapi juga  kita,  anak muda harus ikut ambil bagian,”kata Agus Widiantara disela Workshop Rumah Moderasi Mahasiswa tersebut. Lebih jauh, tambah pemuda yang juga Dosen Ilmu Komunikasi tersebut mengungkapkan potensi intoleransi bisa saja menimpa siapapun, tidak mengenal latarbelakang  suku maupun agama mayoritas maupun minoritas.

Baca Juga:  Lewat Program "Ngejot" HMPS Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan, Singaraja Berbagi Dengan Lansia

Derasnya arus informasi yang difasilitasi media sosial menjadi persoalan yang belakangan   kian rumit dan memantik dinamika kehidupan keberagaman di Indonesia. Konten-konten SARA menurutnya  dengan mudah dijumpai di ruang maya. Jika mahasiswa tidak kritis dan cerdas menyaring informasi, dipastikan menjadi korban hoaxs intoleransi dan radikal. “Semenjak ada media sosial, kita mudah sekali sentimen dan berlebihan dalam menyikapi hal yang belum tentu kita pahami,”tuturnya.

Sementara itu Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja I Putu Mardika menguraikan pentingnya mahasiswa mengambil peran sebagai katalis toleran di tengah kehidupan masyarakat yang kompleks. Sebagai kaum terdidik, mahasiswa dipandang strategis untuk mendorong perubahan serta  menawarkan gagasan toleransi dengan cara kekinian yang lebih relevan.

Meskipun menurut berbagai hasil survey dan riset, tambah Mardika yang juga jurnalis tersebut mengungkapkan mahasiswa rentan terpapar  paham radikalisme. Namun hal tersebut bisa ditekan dengan sikap moderasi, terbuka dan membuka diri dengan semua pihak. “Kuncinya mahasiswa harus berada di tengah-tengah, seimbang. Mampu dan bisa menghargai perbedaan baik dari pikiran, tindakan dan sikap keseharian,”ucap Dosen Pengampu Mata kuliah Multikultur tersebut.

Sebagai Kawasan Multikultur, Kabupaten Buleleng  tambah Mardika  memiliki jejak rekam toleransi yang panjang. Mulai dari sejarah kerajaan dan relasi Puri dengan umat Islam, tempat ibadah yang iconik  bercorak budaya Bali, adopsi spirit  tradisi dan budaya dalam sistem kepercayaan beragam kepercayaan di Buleleng dan relasi sosial ekonomi yang tumbuh hingga saat ini menjadi penanda peradaban toleransi yang harus dilestarikan.

Baca Juga:  Mahasiswa Unud Daftarkan Tradisi Lukat Geni Sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK)

Sementara itu workshop Rumah Moderasi Mahasiswa yang dirancang tidak sekadar membuka mindset mahasiswa tentang toleransi. Namun juga berdialog secara langsung dengan mahasiswa lintas agama di Kota Singaraja. Sinta Yani salah satu peserta workshop mengakui senang bisa mengikuti kegiatan. Meskipun topik toleransi bukanlah hal yang asing baginya, namun konsep dialog yang ditawarkan dalam Rumah Moderasi Mahasiswa dinilai berbeda, asyik, cair dan tidak kaku.

“Workshop ini tidak seperti workshop lainnya, keren. Harapannya dialog seperti ini ditingkatkan lagi dan menghadirkan keberagaman,”harap mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Unidiksha) Singaraja tersebut. Workshop diikuti oleh 20 peserta dari berbagai mahasiswa lintas agama dan organisasi kerohanian/keagamaan di Kota Singaraja. Acara tersebut didukung oleh Indika Foundation, sebuah Lembaga donor  yang memiliki visi dalam mendorong kehidupan yang berkelanjutan yang lebih baik dan membangun  perdamain (peacebuilding). (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button