Budaya

Workshop Tari Joged Bumbung: Penari Cantik Bisa Kurangi Goyangan Erotis

Tabanan –  Puluhan penari dan pemilik sanggar seni di Kabupaten Tabanan pada Minggu, (23/4) berkumpul di Gedung Kesenian I Ketut Maria. Mereka mengikuti workshop soal fenomena tarian Joged yang terjadi saat ini. Kegiatan ini digagas oleh Paiketan Seniman Bali Kabupaten Tabanan. Ketua Panitia acara I Made Noviyanto menyebutkan, acara tersebut membahas berbagai hal yang melingkupi dinamika tarian joged.

“Juga termasuk soal tabuh kreasi dari sekaa joged saat ini yang malah menjurus kehilangan pakem tradisi,” ujarnya.

Selain itu, adanya fenomena soal tarian joged dianggap erotis, dosen karawitan di UNHI Denpasar ini menjelaskan, hal tersebut bisa diminimalisir dengan menampilkan penari joged berparas menarik atau cantik.

“Saya sudah coba itu, dan penampilan joged tetap meriah. Karena penari yang cantik punya penggemar dan tidak hanya mengandalkan goyangan erotis,” ujarnya.

Baca Juga:  Peringatan Bulan Bung Karno, Relawan Semut Gelar Sembahyang Bersama

Keluarga Besar Paiketan Seniman Bali Kabupaten Tabanan berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk menyelenggarakan Workshop ini. Sebagai upaya mengembalikan nilai-nilai estetika dan etika yang terdapat pada tarian joged bumbung.  “Sehingga setelah kegiatan ini kami berharap tarian joged bumbung perlahan dapat kembali citra positifnya,” ujarnya.

Sementara itu, I Nyoman Ardika atau pelawak Sengap yang menjadi moderator dari acara itu juga mengatakan, saat ini terjadi degradasi nilai dari penari joged. Pelawak yang juga dikenal dengan nama Golden Sengap ini mencontohkan kakeknya yang beristrikan penari joged.

“Kalau zaman dulu, itu menjadi rebutan dan memiliki rasa bangga bisa mendapatkan cinta seorang penari joged yang memiliki wajah cantik. Sekarang, malah kesannya penari joged kurang di mata masyarakat. Apalagi munculnya tarian joged erotis,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber pada acara tersebut, I Ketut Gede Rudita atau yang dikenal dengan nama panggung Sokir (Trio lawak Celekontong Mas) menilai, adanya unsur gambelan joged dengan banyak variasi misalkan menjurus musik Koplo bisa memicu munculnya gerakan diluar pakem tarian joged.

Baca Juga:  Melukis Rumah Kaca Pada Kanvas di TBK

“Ini menurut saya, misalkan pada musik punk, rock dan pop, cara kita untuk menikmatinya kan berbeda-beda,” ujarnya.

Perwakilan Dinas Kebudayaan Tabanan, Kabid Kesenian Ni Luh Nyoman Sri Suryati menyebutkan, pihaknya terus melalukan sosialisasi terkait undang-undang porno aksi. Karena menurutnya, tarian joged sempat kebablasan di luar pakem tarian. Bahkan, menjurus erotis bahkan aksi porno.

“Dampaknya sudah ada, misalkan di beberapa tempat di Tabanan, dari pihak kelihan banjara tau prajurunya sebelum tarian joged dimulai akan ada arahan pada sekaa atau penarinya,” ujarnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button