Budaya

Jaga Taksu Bali: Yayasan Dalem Gedong Ratih Terus Melaksanakan Pengabdian Masyarakat

Badung – Sebagai sebuah yayasan yang menjadi tempat untuk mengayomi Umat Hindu, Yayasan Dalem Gedong Ratih di Banjar Uma Anyar, Desa Mambal, Badung terus melaksanakan pengabdian pada masyarakat. Pada Jumat, (16/9) yayasan ini melaksanakan Metebas Gering dan Mebayuh Oton yang diikuti oleh ratusan umat Hindu dari berbagai penjuru Pulau Dewata.

Upacara ritual Metebas Gering dan Mebayuh Oton dipuput oleh Ida Begawan Wiweka Dharma Tarukan dari Griya Tegal Pantunan Monang-Maning, Denpasar serta mangku Tri Khayangan, Banjar Uma Anyar, Desa Mambal.

Metebas Gering dan Mebayuh Oton rutin digelar setiap 15 hari sekali pada Kajeng Kliwon. Selain itu, Yayasan Dalem Gedong Ratih juga akan menggelar upacara ritual massal, yakni Metatah, Ngeraja Suala dan Ngeraraja Singa pada 23 hingga 26 November 2022.

Ketua Yayasan Dalem Gedong Ratih I Ketut Dharma Kresna Wijaya menjelaskan, sebelum umat melaksanakan ritual Metebas Gering dan Mebayuh Oton akan dilakukan Pewacakan atau ramalan sifat bawaan secara astrologi.

“Menurut hari kelahiran yang mencakup wuku dan wewaran,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pewacakan penting dilakukan untuk memahami watak dan karakter serta hal-hal yang baik atau tidak dilakukan di masa depan. Setelah mendapatkan hasil Pewacakan ini dicarikan momen untuk menetralisir derita bawaan sejak lahir tersebut dengan upacara Metebas Gering dan Mebayuh Oton.

“Metebas Gering dan Mabayuh Oton untuk pengruwatan dari pengaruh kelahiran dan karma phala yang buruk,” terangnya.

Selain itu, setiap orang yang lahir ke dunia memiliki hutang dan karma yang masih melekat sehingga perlu dilakukan upacara Metebas Gering dan Mebayuh Oton. “Ritual ini juga akan mengurangi pengaruh Sad Ripu atau sifat-sifat keraksasaan yang dibawa sejak lahir,” imbuhnya.

I Nyoman Ardika alias Sengap yang juga pengurus di Yayasan Dalem Gedong Ratih menambahkan, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Yayasan Dalem Gedong Ratih ini murni untuk membantu masyarakat khususnya Umat Hindu.

“Semangatnya adalah pengabdian,” ujarnya.

Pelawak kesenian bondres asal Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan ini menilai, kegiatan ritual Metebas Gering dan Mebayuh Oton yang sebelumnya didahului oleh Pewacakan merupakan budaya dan warisan luluhur Bali. Ia melihat masyarakat Hindu di Bali sangat percaya dengan hal ini sebagai salah satu petunjuk mengatasi masalah hidup.

“Kami berharapan semoga masyarakat bisa merasakan manfaatnya. Terutama generasi muda memiliki kemauan melestarikan budaya yang sangat berguna ini,” ujarnya. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button