Garin dan Kisah Puisi Cintanya.

Budaya Foto

Kuta – Sutradara Garin Nugroho pada Sabtu, 27 Maret 2021 meluncurkan buku puisi di Kuta, Badung. Ini adalah buku pertamanya soal puisi. Ia telah mengumpulkan puisi sejak 1990-an.

 

Pemilik nama lengkap Garin Nugroho Riyanto ini menilai puisinya tanpa koreksi. Mengalir begitu saja. Dalam perjalanan di kendaraan umum, pesawat terbang, naik kapal kayu, di rumah, di cafe hingga saat syuting atau teater.

 

Penulis yang telah menghasilkan belasan buku ini mengisahkan coretannya lahir ketika mendapakan waktu senggang. Mulai dari perjalanan di hutan Wasur Papua, ketika duduk santai di rumah Jogja, menyusuri Sungai Mamberamo, Sungai Lhoksado Kalimantan, rumah gadang Danau Singkarak, mengikuti arak-arakan di Larantuka, mencari ikan di Lamalera, bertabuh gendang di Tanah Bugis, melintas sabana di Sumba hingga makan roti selai khas di Aceh serta di kebun-kebun kopi tanah Gayo.

 

 

 

Pria kelahiran Yogyakarata ini menyebut kumpulan bukunya yang berjudul Adam, Hawa dan Durian ini merupakan puisi rileks.

 

“Bukan puisi sastra,” ujarnya saat itu.

 

Baginya puisi adalah kata yang teruntai yang mampu memberi peran apa pun dalam hidup. Menjadi relaksasi, memuji dan mencintai kehidupan.

 

“Puisi dalam buku ini adalah orkestra kegembiraan hidup dari pikiran dan perasaan,” katanya menambahi.

 

Peluncuran buku ini juga diisi dengan musikalisasi puisi. Garin ikut dalam pentas tersebut didukung beberapa rekannya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *