Pariwisata

Prodi Sastra Jepang Unmas, Denpasar Pengabdian Masyarakat di Jatiluwih. Begini Materinya

Tabanan – Program Studi (Prodi) Sastra Jepang, Fakultas Bahasa Asing Universitas Mahasaraswati, Denpasar melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Jatiluwih beberapa waktu lalu. Program ini dijalankan untuk menjawab peran universitas dalam membantu kendala di dalam masyarakat.

Salah satu dosen pendamping, Dr. Anak Agung Ayu Dian Andriyani, S.S.,M.Hum menjelaskan pada masa sekarang berkolaborasi dengan masyarakat menjadi hal yang sangat penting. Aktivitas para dosen dalam membantu desa mitra untuk memberikan pengalaman, pengetahuan serta wawasan sesuai dengan harapan yang dibutuhkan desa mitra merupakan satu bentuk kinerja dalam mengimplementasikan Tri darma perguruan tinggi.

“Kondisi ini memberikan suatu gambaran bahwa tugas dosen tidak saja mengajar mahasiswa dengan memberikan berbagai materi ajar atau melaksanakan kegiatan penelitian namun wajib melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Karena dengan begitu, dapat memberikan suatu peluang bagi para civitas akademika (dosen maupun mahasiswa) mendapatkan wawasan baru, saling bersinergi sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas pendidikan nantinya,” ujarnya.

Desa wisata Jatiluwih dipilih menjadi lokasi pengabdian masyarakat karena desa wisata ini sangat terkenal dan sangat diminati oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Desa ini berada di kabupaten Tabanan dengan obyek wisata yang paling terkenal untuk sektor pertanian yaitu, pariwisata alam yang disebut dengan sawah berundak “teracce sering” serta produksi unggulan Desa Jatiluwih adalah Padi Bali Beras Merah Cendana.

Baca Juga:  MPWD Unmas Denpasar Fokus Garap Desa Binaan Batukaang, Kintamani Untuk Mewujudkan Wisata Desa Berbasis Agroeduheritage

Berdasarkan analisis situasi di atas, maka, berdasarkan potensi desa dengan kunjungan wisatawan salah satunya Jepang juga cukup banyak, para dosen dan mahasiswa dapat saling berbagi pengalaman terutama dalam bidang kebahasaan yaitu, Bahasa Jepang.

“Bahasa Jepang memfokuskan pada bahasa pelayanan (hospitalityomotenashi’ ranah pariwisata). Mengingat Desa Jatiluwih merupakan desa wisata dengan destinasi wisatawan Jepang yang cukup tinggi,” ujar Anak Agung Ayu Dian Andriyani.

Sementara itu, Prebekel Desa Jatiluwih, I Nengah Kartika menyampaikan bahwa, salah satu upaya untuk tetap menjaga kualitas sumber daya manusia, maka para Pokdarwis dan pelaku pariwisata selalu berharap untuk mendapatkan pendampingan dari para civitas akademika, khususnya dari Fakultas Bahasa Asing (FBA) Unmas Denpasar.

Baca Juga:  Mitos Air Sanih Dan Kunci Hubungan Langgeng Anak Muda

“Dengan harapan agar Desa Jatiluwih tetap eksis dan dikenal oleh para wisatawan melalui keramahtamahan serta kemampuan berkomunikasi dengan pelayanan yang prima,” ujarnya.

Kegiatan pengabdian kali ini, dilaksanakan oleh Program Studi Sastra Jepang FBA Unmas Denpasar dengan tema pelatihan “Peningkatan pelayanan/hospitality prima bagi Wisatawan Jepang”. Adapun materi yang diberikan adalah Cross Culture (perbedaan budaya), hospitality ranah pariwisata secara umum, tujuan dan fungsi omotenashi sebagai pelayanan prima dalam ranah pariwisata Jepang serta strategi jitu dalam memberikan pelayanan menggunakan konsep 5 S + 2T & 1M yaitu, Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun + Terima kasih, Tolong serta Maaf.

Para Pokdarwis dan pelaku pariwisata sangat antusias mengikuti pelatihan dan mendapatkan ilmu baru dalam memberikan pelayanan prima terutama terhadap wisatawan Jepang karena perbedaan konsep serta budaya. Sehingga dengan pemahaman baru dan pengetahuan tentang beda budaya Jepang-Indonesia yang dimiliki oleh para Pokdarwis serta pelaku parwisata di lingkungan Desa Wisata Jatiluwih maka mampu memberikan pelayanan prima sehingga memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang berkunjung khususnya Jepang. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button