BudayaGaya HidupJalan-JalanJurnalisme Warga

Sebuah Ruang Urban Anak Muda Tabanan: “Do Kae Uruse Vol. 4” 

“Bersenang-senang tanpa memohon belas kasihan pada pemerintah"

CoverBali – Sebuah panggung berukuran 3 meter x 4 meter terpasang di atas lahan parkir Studio Bahana Musik yang berlokasi di Kecamatan Mengwi, Badung. Tampak dua orang pria tengah sibuk memasang sound system berjejer di atas panggung, salah satunya adalah pemilik studio. Sebuah gig musik rupanya akan digelar pada Jumat, (15/07). Meski berlokasi di Mengwi, jangan salah. Ini merupakan gawe kreatif anak muda Tabanan dari komunitas Sandal Terbang Crew kolaborasi bersama Tabanan Organized.

Sementara itu, dua orang lainnya terlihat tengah sibuk mencampur cat. Pada sebuah dinding tampak sketsa gambar yang dibuat sebelumnya. Hingga menemukan campuran warna yang pas, mereka perlahan melapisi sketsa pada dinding studio. Dua orang ini adalah Agus Wijaya dan Erik Surya, 24 tahun yang tengah membuat mural.

Keduanya merupakan seniman mural asal tabanan. Agus Wijaya memiliki ciri khas gambar lebih mirip siluet. Dipadukan dengan beberapa warna, hingga akhrinya tampak berbeda dari gambar siluet pada umumnya.

Lain lagi dengan Erik Surya, muralis ini identik dengan gambar tengkorak berkarakter oldskool. Mereka berdua merupakan bagian dari Sandal Terbang Crew.

Tidak berhenti di sana. Menjelang sore, tampak seniman lain yang datang yakni, Gede Rian dan Takeshi. Kini dinding Studio Bahana Musik dikeroyok oleh empat seniman mural dengan gaya berbeda. Gede Rian merupakan seniman mural sekaligus tato artis dengan ciri khasnya oldskool dengan menonjolkan karakter pewayangan. Sementara Takeshi, 31 tahun seniman tato dan mural dengan konsep kaligrafi.

Dalam gig patungan ini, harga tiket masuk Rp 10 ribu. Selain mural dan gelaran musik cadas, juga dihadirkan beragam rupa motor custom dari Bajing MS dan juga lapak baca gratis Perpustakaan Jalanan Tabanan. Sementara untuk hiburan, sore itu diisi oleh DJ Mantra.

“Ketika diberi ruang untuk berkegiatan seni, itu sesuatu yang luar biasa. Selain sebuah kebebasan berekspresi, tidak ada perbedaan antara mahir atau pemula,” ujar Erik Surya.

Sementara itu, Takeshi memiliki alasan lain menggagas  acara “Do Kae Uruse Vol. 4”. Sebagai anak band dan ingin tampil pada sebuah panggung, Ia merasa perlu membuat panggung sendiri.

“Karena kami punya band dan ingin perform,” ujarnya.

Hingga timbul ide untuk mengajak teman-temannya membuat acara musik yang dinikmati dari kalangan mereka sediri. Hasil penjualan tiket pun mereka alokasikan untuk bayar studio dan membeli arak hingga mabuk bersama.

“Bersenang-senang tanpa memohon belas kasihan pada pemerintah. Sesederhana itu,” ujarnya.

Take sapaan akrabnya berharap agar acara ini tetap dapat digelar secara konsisten minimal dua bulan sekali.

“Masih konsisten, kami membuatnya dua bulan sekali. Karena sebulan terlalu dekat dan setahun terlalu lama, jadi dua bulan,” ujarnya. “Rindu itu dibayar lunas dengan lantai dansa dan berbagi cerita murahan. Misalnya, seorang kawan yang kepergok onani oleh ibunya. Sangat aneh bukan. Hahahaa,”

Gig ini merupakan acara keempat. Sebelumnya dibuat di beberapa tempat berbeda. “Bahana terbaik menurut kami sejauh ini. Sejujurnya kami sangat ingin membuat gig di Tabanan, sangat ingin. Di Bahana tak dipersulit perijinan dan tetek bengeknya,” katanya.

“Jadi sangat pas dengan kami yang digosipkan anti politik. Padahal anti politik adalah bagian dari sikap politik itu sendiri,” ujar Takeshi.

 

 

Penulis: I Nyoman Ananda Kusuma Putra, Penggagas Perpustakaan Jalanan Tabanan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button