Opini

Patung Wisnu Murti, Legasi Politik Komang Sanjaya

Melihat patung Wisnu Murti di Kecamatan Kediri saat ini juga akan melihat sosok seorang Komang Sanjaya.

Tabanan – Pada Jumat, 23 Desember 2022 atau pada rerainan Tilem Kanem (enam), patung Wisnu Murti yang berada di tengah jalur Denpasar-Gilimanuk diresmikan oleh Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya. Sebagian orang yang lewat mungkin mengagumi bentuk patung ini. Saya secara pribadi juga kagum melihat patung yang dibuat oleh seniman asal Desa Penarukan, Kecamatan Kerambitan, Tabanan I Nyoman Sudarwa.

Tapi, bisa jadi pada sebagian benak orang yang lain, melihat patung ini ada cerita lain. Patung Wisnu Murti selalu menjadi bagian dalam wacana politik pemilihan bupati di Tabanan. Seingat saya, wacana itu muncul sejak Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tabanan 2010.

Meski dalam kondisi hujan disertai angin kencang pada Tilem Kanem, patung Wisnu Murti sah secara sekala dan niskala berdiri menjadi sebuah penanda.

Tanda apa?

Bagi saya, patung Wisnu Murti bukan perkara sebuah lambang untuk menandai perempatan jalan. Patung ini memiliki kisahnya sendiri. Saya mendengar gosip, setelah patung Wisnu Murti dirobohkan dan diganti dengan patung Bung Karno. Konon katanya ditambah kabar burung, patung Bung Karno belum diresmikan.

Katanya lagi, patung Bung Karno saat itu digagas oleh Bupati Tabanan  Ni Putu Eka Wiryastuti. Maka, pada pemilihan bupati Tabanan 2010 calon penantang mewacanakan kembalinya patung Wisnu Murti sebagai wacana tandingan.

Baca Juga:  Hari Pers Nasional Untuk Siapa?

Seingat saya, saat itu wacana patung Bung Karno diganti kembali menjadi patung Wisnu Murti menjadi “gorengan” isu politik yang sangat gurih di media sosial.

Pada Pilkada bupati selanjutnya juga begitu. Pada 2015 isu patung Bung Karno yang harus diganti kembali menjadi patung Wisnu Murti menyeruak lagi.

Katanya sich, isu ini cukup berpengaruh bagi pemilih di wilayah Kecamatan Kediri. Katanya ya! Media sosial juga kala itu masih panas soal isu ini.

Hingga calon Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya mengeluarkan pernyataan akan membangun kembali patung Wisnu Murti. Seingat saya (maaf kalau salah), pernyataan itu dikeluarkan di KPU Tabanan setelah pengambilan nomor urut untuk Pilkada 2015.

Tapi, banyak yang ragu soal ini. Termasuk saya. Karena melihat beban politik patung Bung Karno. Patung Bung Karno lahir di era Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti. Kasak-kusuk yang saya dengar, kemesraan hubungan Eka Wiryastuti dengan wakilnya Komang Sanjaya sedang terguncang.

Jika berkaca pada teori Semiotika Politik, menghilangkan patung Bung Karno sama dengan menghilangkan tanda dari seorang Ni Putu Eka Wiryastuti.

Namun, Komang Sanjaya dalam wawancaranya pada awak media selalu mengatakan patung perunggu karya Nyoman Nuarta ini tidak dihilangkan atau dibongkar, tapi dipindahkan.

Baca Juga:  Ketakutan Pada Diskursus Radikal

Sebelum memindahkan patung ini, Komang Sanjaya telah membangun sebuah taman yang dinamainya Taman Bung Karno. Kini, di sini lah lokasi bersandarnya patung proklamator negeri ini. Hmmmm, lumayan.

Menjadi Semacam Mijlpaal Politik

Pada pidato 20 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Soekarno mengatakan apa yang telah dicapai bangsanya adalah sebuah mijlpaal. Dalam bahasa Belanda mijlpaal berarti tonggak pencapaian.

Soekarno mengatakan, apa yang telah diraih bangsanya adalah dengan memanfaatkan momentum kekalahan Jepang dan tidak percaya dengan janji-janji dari pihak sekutu.

Setali tiga uang, saya melihat Komang Sanjaya juga memanfaatkan momentum. Setidaknya kini Ia memiliki dua keuntungan dari momentum patung Wisnu Murti. Pertama, tekanan dari wacana politik patung Bung Karno telah usai. Kedua, potensi suara dengan jumlah pemilih yang banyak di Kecamatan Kediri akan bisa dimaksimalkan.

Saya kira tidak berlebihan jika menganggap patung Wisnu Murti dan Patung Bung Karno yang kini telah berpindah adalah salah satu mijlpaal politik seorang Komang Sanjaya.

Bisa jadi, di benak sebagian orang yang melihat patung Wisnu Murti di Kecamatan Kediri saat ini juga akan melihat sosok seorang Komang Sanjaya.

 

Tulisan oleh redaksi.

*Kata legasi dalam bahasa Melayu berarti warisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button