Jurnalisme Warga

Pak Daud, Supir Ambulans PMI Buleleng dan 30 Jam Perjalan Darat ke Jakarta

Singaraja – “Jangan Biarkan Waktu Berlalu Tanpa Pengabdian.” Kalimat itu tertulis di dinding markas Palang Merah Indonesia (PMI) Buleleng berhasil memantapkan tekad seorang Daud Puji Raharjo untuk mengabdikan diri lewat kegiatan kemanusiaan. Keinginannya membantu sesama sungguh perbuatan yang mulia.

Pernahkah kita berfikir bahwa perbuatan kecil dapat mengubah dunia yang besar?

Laki-laki kelahiran Jakarta, 31 Oktober 1985 itu memutuskan melanjutkan pendidikannya ke Bali beberapa dekade lalu. Bergabung dalam Palang Merah Indonesia (PMI) sejak SMP di Jawa Timur membawa suasana berbeda.

Berangkat dari ekstrakulikuler Palang Merah Remaja (PMR), hingga melanjutkan pendidikan di Bali yakni di SMK Negeri 3 Singaraja merupakan kebangaan tersendiri baginya. Tidak berhenti sampai disana, lelaki yang kini berusia 36 tahun itu bisa dikatakan sangat mencintai pekerjaannya sebagai relawan PMI sejak remaja.

”Saya Bergabung ke PMI dari Ikut PMR waktu di SMP Negeri 1 Mojowarno Jombang, Jawa Timur, karena pengen mengikuti kegiatan ekstrakulikuler untuk menambah teman di sekolah dan dilanjutkan di SMK Negeri 3 Singaraja” ujarnya pada Kamis, 9 Juni 2022.

Usia yang terbilang muda saat Ia bergabung menjadi anggota PMI dibanding anak-anak seusianya yang mungkin kurang berminat dalam bidang tersebut. Berkat doa dan kerja keras tentu akan membuahkan hasil yang manis. Lagi pula pihak keluarga juga sudah mengijinkannya dan mendukung dirinya untuk ikut bergabung dengan salah satu organisasi kemanusiaan tersebut, dan ini merupakan langkah awal untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik.

Pada mulanya lelaki yang kerap disapa Daud itu mengikuti PMI di Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah. Kemudian PMR Wira Satuan Inti Angkatan 19 dan berlanjut ikut serta dalam diklat KSR serta pelatihan bidang pelayanan PMI.

Ia juga pernah bertugas di bagian pertolongan pertama saat acara Pemkab Bueleng, dilanjutkan mengikuti berbagai pelatihan di PMI hingga dipercaya untuk memegang kegiatan masyarakat dalam program kebencanaan.

“Awal mula ikut PMI bertugas di bagian pertolongan pertama acara Pemkab Buleleng, kemudian mengikuti pelatihan bidang pertolongan pertama, ambulans dan humas. Setelah itu dipercaya untuk kegiatan di masyarakat dalam peningkatan kapasistas mengenai bencana pada 2008 hingga 2009,” lanjutnya lagi.

Bukan hal mudah, setiap pekerjaan pastilah ada hambatan dan rintangannya. Tapi itu tidak memadamkan semangatnya untuk tetap membantu sesama lewat PMI. Berkat dukungan dan doa dari orang-orang terdekat niscaya apa yang dilakukannya sekarang akan sangat bermanfaat bagi hidup seseorang. Tidak ada kisah yang tidak berkesan saat bertugas di lapangan semua ia lakukan demi kehidupan banyak orang.

Daud Puji Raharjo yang kini bertugas di bagian ambulans PMI Buleleng mengatakan, jika dilihat sekilas apa yang dilakoninya saat ini mungkin perkerjaan yang sepele bagi sebagian orang. Mengantar dan menjemput pasien dengan sirine dan akan didahulukan oleh pengguna kendaraan.

Tapi, suatu kesalahan jika berfikiran begitu. Bekerja sebagai petugas ambulans ini sangat beresiko. Bukan hanya itu para petugas PMI yang bertugas di ambulans rela mengorbankan sebagian besar waktunya untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Salah satu momen berkesan yang Ia alami saat melakukan pelayanan ambulans dari Rumah Sakit Siloam Denpasar ke Rumah Sakit Darmais Jakarta, yang pada saat itu keadaannya sangat menegangkan dengan menggunakan ambulans HIACE milik PMI Provinsi Bali.

Menempuh waktu 30 jam jalur darat dengan keadaan pasien yang mengidap kanker otak stadium tiga cukup membuat perasaannya was-was pada saat itu.

Di beberapa pemberhentian yakni di PMI Probolinggi, PMI Madiun, Agen Oksigen Solo dan PMI Kota Semarang sekedar untuk mengganti dan mengisi oksigen dalam perjalanan.

Saat itu timnya dengan ketulusan hati membantu pasien dan diketahui setelah perjalanan panjang tersebut pasien menghabiskan hingga 26 tabung oksigen.

“Pasien selamat hingga sampai di Jakarta, kami didampingi oleh perawat dan keluarga terdekat pasien” ucapnya di akhir cerita.

Perjanan seorang Daud Puji Raharjo yang sangat menggugah hati selama berkegiatan sebagai petugas ambulans memberikan spirit baru karena lewat PMI, Ia dapat membentuk dirinya dan membantu sesama.

Banyak prestasi yang torehkannya saat menjadi anggota PMI khususnya di Buleleng dan Provinsi Bali. Perlu kita ketahui, Ia adalah satu diantara jutaan sosok inspiratif yang berjasa besar bagi masyarakat.

“Selain di PMI saya sebagai fasilitator PMR di SMA Negeri 1 Singaraja, prestasi yang kedua yakni peringkat 2 Program Community Awerness FRC, serta memfasilitasi adik-adik PMR yang saya bina dari tahun 2005 sampai sekarang memperoleh banyak sekali prestasi dari level Kabupaten, Provinsi dan Nasional namun yang berkesan adalah Juara 1 Prestasi Sekolah Siaga Bencana se-Indonesia di UNNES” ujarnya.

Lelaki yang memiliki hobi jalan-jalan dan berwisata kuliner ini juga mengungkapkan kesenangannya karena telah banyak membantu sesama, dan ia berharap kedepannya dapat memperoleh pencaiapan-pencapaian lain

“Mari lihat peluang, belajar dengan tantangan yang ada, menghadapi tantangan disertai dengan doa dan jangan mengeluh. Karena Tuhan memberikan cobaan sesuai kapasitas umatnya. Seperti kata presiden Joko Widodo ‘kerja, kerja, kerja,” ujarnya. (CB)

 

Penulis : Luh Sri Mudani

*Tulisan ini sebagai tugas kuliah Teknik Wawancara dan Reportase Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, Singaraja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button